Fakta Menarik Wisata Edukatif di Sentra WisataWayang Kulit Pucung

Wisata edukatif memang sudah menjadi salah satu alternatif liburan favorit di berbagai desa wisata edukatif yang ada di Indonesia terkhusus di daerah Istimewa Yogyakarta. Pasalnya dengan konsep wisata edukatif, banyak hal yang bisa didapatkan dengan hanya sekali liburan. Mulai dari memanjakan mata berkat keindahan alam serta kearifaan lokal, belajar sejarah, mengasah ketrampilan sampai dengan berbelanja berbagai jenis kerajinan lokal.

Jogja sendiri memiliki salah satu destinasi wisata edukatif yang recomeended untuk Anda singgahi. Atau yang oleh sejumlah orang juga dikenal sebagai desa wisata wayang kulit atau sentra wisata wayang kulit Pucung.

Sejak puluhan tahun silam Desa Pucung terkenal dengan sentra industri wayang kulitnya. Bagaimana tidak, sebagian besar masyarakat di desa ini berprofesi sebagai pengrajin wayang kulit. yang mana keahliah tersebut diwarisi dari para leluhur desa ini sejak tahun 1930an. Maka tak heran jika kemudian desa ini dinobatkan sebagai Sentra KerajinanWayang Kulit oleh Pemerintah Kabupaten Bantul.

Wisata Edukatif Di Desa Wisata Wayang Kulit Pucung Yogya. Sumber : GudegNet
Wisata Edukatif Di Desa Wisata Wayang Kulit Pucung Yogya. Sumber : GudegNet

Desa wisata wayang kulit ini bisa Anda jumpai di Desa Pucung, Kelurahan Wukisari, Kecamatan Imogiri Bantul. Berjarak sekitar dua kilometer dari makam raja-raja Imogiri. Tepatnya di Desa Wisata Wayang Pucung Jl. Imogiri Timur KM. 14, Dengkeng, Wukirsari, Imogiri, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

lalu seperti apa fakta menarik seputar sentra wisata wayang kulit yang satu ini?

Fakta Menarik Sentra Wisata Wayang Kulit Pucung

Pucung yang merupakan salah satu sentra kerajinan tatah sungging kulit, khususnya wayang-wayangan tentu saja menyimpan banyak hal menarik untuk ditelusuri. Mulai dari kearifan lokal hingga berbagai tempat yang indah dan menarik untuk dijadikan sebagai spot foto yang tepat. Berikut ini beberapa hal unik yang menarik untuk dsimak.

Tatah Sungging

Proses tatah kulit sebelum menjadi sebuah wayang kulit. Sumber : Google
Proses tatah kulit sebelum menjadi sebuah wayang kulit. Sumber : Google

Tatah dalam bahasa jawa bisa berartian memahat, sedangkan sungging memiliki arti mewarnai. Sehingga tatah sungging bisa difahami sebagai proses memahat dan mewarnai pada suatu media. Jika dikaitkan dengan wayang, maka obyek pahat dan mewarnai tidak lain adalah wayang itu sendiri.

Di Pucung, media yang digunakan adalah kulit sapi dan kerbau. Kulit-kulit ini lah yang nantinya akan dipahat dan diwarnai sedemikian rupa hingga jadilah sebuah wayang kulit dengan nilai seni yang tinggi.

Sejarah Wayang Kulit Pucung

Awal mula Desa Pucung tumbuh menjadi desa wisata wayang kulit dengan mayoritas penduduknya yang berprofesi sebagai pengrajin tatah sungging adalah dari kehadiran mbah Atmo Karyo atau juga sering disebut dengan panggilan mbah Glemboh. Adalah beliau seorang kepala desa dusun Pucung itu sendiri pada tahun 1917, sebelum kemudian berubah nama menjadi Dusun Karangasem.

Munncul satu pertanyaan tentang dari mana mbah Glemoh itu sendiri dalam mendapatkan keterampilan tatah sungging yang kemudian menjadi cikal bakal pesatnya perkembangan kerajinan wayang kulit di desa tersebut. Ini akan terjawab dengan fakta sejarah bahwa tempo dulu seseorang untuk kemudian bisa menjadi seorang kepala desa harus mendapatkan pelatihan terlebih dahulu dari panewon atau kecamatan yang memiliki keterkaitan dengan kraton.

Pelatihan yang diberikan, dibina langsung oleh Sultan. Yang mana Sultan yang bertahta pada waktu itu adalah Hamengkubuwono VII. Dengan demikian secara tidak langsung mbah Glemboh turut menjadi bagian dari abdi dalem Keraton.

Singkat cerita dengan kedekatan mbah Glemboh dengan Sultan, serta tugas untuk merawat dan menjaga wayang keraton yang diampuh oleh mbah Glemboh, beliau kemudian memiliki ketertarikan untuk membuat wayang sendiri pada tahun 1918 dan mulai menekuni menatah wayang.

Menariknya, ketika mbah Glemboh hendak menunjukan wayang kulit buatan beliau ke Keraton, justru wayang-wayang tersebut diminati dan dibeli oleh salah seoraang belanda dan juga salah satu pemilik toko batik terkenal pada masa itu utuk dijadikan pajangan. Ini menjadi bukti sejauh mana nilai seni dari wayang hasil tangaan mbah Glemboh

Mbah Glemboh terus menatah sungging kulit untuk dijdikan wayang hingga tahun 1930an, yang kemudian seiring dengan berjalannya waktu kerajinan wayang kulit warga Pucung mulai banyak dikenali dan diminati yang menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra wayang kulit Jogja yang cukup populer hingga saat ini.

Produktivitas dan Harga Wayang

Pucung dengan lebih kurang 830 perajin serta 51 industri kecil dan menengahnya, tidak hanya menghasilkan berbagai macam wayang kulit, namun juga mampu menghasilkan berbagai kerajinan turunan seperti gantungan kunci, kipas dan berbagai macam kerajinan yang juga cocok untuk dijadikan sebagai paket seminar kit berbagai event-event besar.

Wayang, kearifan lokal yang mendunia. Sumber : Google
Wayang, kearifan lokal yang mendunia. Sumber : Google

Terkait dengan harga wayang tentu saja sangat bergantung pada kualitas dari wayang kulit itu sendiri. Sedangkan kualitas dari wayang kulit tersebut bisa dilihat sari tingkat kehalusan. Semakin halus wayang itu artinya semakin berkualitas dan mahal harganya. Untuk harga bisa 10 juta hingga ratusan juta rupiah.

Regenerasi, Paguyuban dan Paket Wisata

Di desa ini kita juga akan mendapati paguyuban yang dibangun pada tahun 2014 dan baru aktif di tahun 2016. Paguyuban ini dibentuk dengan beberapa maksud, di antaranya adalah sebagai wadah regenerasi pengrajin agar kerajinan bisa terus lestari hingga lintas generasi.

Maksud lain dari pendirian dan aktivasi Paguyuban tentu saja bukan hanya untuk menjual hasil kerajinan dan kolam regenerasi pelanjut, namun juga dimaksudkan sebagai bagian dari paket wisata bagi para wisatawan yang datang dan singgah. Informasi terkait bisa kita temukan di banyak website oleh berbagai jasa pembuatan website yang ada.

Paket wisata yang ditawarkan di antaranya ada kelas filosofi wayang, kelas memahat wayang, kelas mewarnai wayang, telusur kampung wayang, pertunjukan wayang, belajar gamelan, trekking, ubah rampe janur, meracik wedang uwuh, dan masih banyak lagi lainnya.

Kulit Sapi VS Kulit Kerbau

Dua jenis kulit hewan yang umumnya digunakan di desa wisata wayang kulit ini. yaitu kulit sapi dan kulit kerbau. Namun manakah yang lebih banyak digunakan? Jawabannya adalah kulit kerbau.

Para pengrajin tatah sungging lebih senang menggunakan kulit kerbau sebagai media wayang kulit ketimbang menggunakan kulit sapi meskipun harga kulit kerbau sendiri lebih mahal. Hal ini dikarenakan di samping lebih tahan lama dan mampu menghasilkan kuaitas lebih bagus, dengan kulit kerbau para pengrajin memungkinkan untuk membuat wayang dengan ukuran besar maupun medium.

Sedangkan untuk kulit sapi sendiri lebih banyak dimanfaatkan untuk pembuatan kap lampu dan berbagai macam kerajinan kulit lainnya.

Itulah di antara sejumlah fakta unik seputar pesona desa wisata yang satu ini. Menarik, karna bukan hanya sekedar desa wisata namun juga desa wisata edukatif dengan muatan edukasi budaya dan sejarah yang sangat kaya sehingga sayang untuk dilewatkan. Akhir kata mudah-mudahan ulasan singkat ini bisa bermanfaaat. Sekian dan terimaa kasih.

Tinggalkan Balasan