Filosofi Tugu Pal Putih Yogyakarta yang Jarang Diketahui

Mengulas Jogja sebagai kota wisata, kota pelajar atau bahkan kota rindu memang tidak akan ada habisnya. Ada begitu banyak hal yang bisa menjadi alasan kita untuk mengunjungi kota yang satu ini. bahkan untuk sesi kunjungan yang kesekian kalinya. Tak terkecuali soal Tugu Yogyakarta yang sangat monumental.

Jogja dengan ragam destinasi wisata, mulai dari wisata pantai, wisata kuliner, wisata religi, wisata sejarah, desa wisata sampai dengan wisata edukasi adalah sebagian dari sekian banyak alasan mengapa kota ini kemudian menjadi kota istimewa, atau sering kita kenal dengan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Umumnya berwisata dilakukan bukan tanpa alasan. Tentu beralasan. Terlepas seperti apa alasan masing-masing para pelancong, prinsipnya selalu ada satu dua alasan mengapa sebuah perjalanan menjadi perlu untuk dilakukan. Hanya saja, tidak jarang para pelancong berlibur hanya sekedar berlibur dengan alasan mencari hiburan atau sekedar melepas penat, menetralisir kebuntuan dari rutinitas harian.

Padahal, jika kita ingin sedikit berupaya, kita bisa mendapatkan lebih dari sekedar keterlepasan penat. Ya, kita bisa mendapatkan tambahaan kekuatan untuk tumbuh lebih tinggi dan rindang dengan memahami lebih dalam berbagai obyek wisata yang hendak kita jumpai. Sejarah dan filosofi dari obyek wisata itu sendiri misalnnya.

Sisi Penting Tugu Pal Putih Yogyakarta

Segala sesuatunya musti beralasan. demikian halnya dengan keberadaaan Tugu Jogja sendiri tentu bukan tanpa alasan. Alasan inilah yang agaknya perlu untuk sejenak kita gali, kita dalami atau kalau perlu kita selami sekalian lautan harapan yang melatar belakangi dibangunnya Tugu Jogja beratus tahun silam.

1. Sejarah Singkat Tugu Yogyakarta

Tugu Yogyakarta yang berusia hampir 3 abad ini pertama dibangun pada tahun 1756 Masehi dengan desain bangunan awal yang terdiri dari tiang berbentuk gilig (silinder) dan puncak berbentuk golong (bulat), sehingga disebut Tugu Golong-Gilig. Ketinggian bangunan tugu ini pada awalnya mencapai 25 meter.

Perbadingan Tugu Jogja dulu dan kini. Sumber : YogYes.com / Agung Sulistiono Mabruron
Perbadingan Tugu Jogja dulu dan kini. Sumber : YogYes.com / Agung Sulistiono Mabruron

Kemudian terjadi gempa yang meruntuhkan bangunan tugu ini pada tanggal 10 Juni 1867. Hingga pada tahun 1889, pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu dengan bentuk sebagaimana kita lihat hari ini. Tugu dibuat dengan bentuk persegi dengan tiap sisi dihiasi semacam prasasti. Bagian puncak berbentuk kerucut yang runcing. Serta ketinggian bangunan yang menjadi lebih rendah, yaitu setinggi 15 meter.

2. Makna Filosofis Tugu Yogyakarta

Sayang sekali jika Tugu Jogja hari ini hanya dimaknai sebagai salah satu landmark populer Yogyakarta atau sekedar destinasi wajib wisata Jogja. Atau bahkan sekedar penanda bahwa seseorang pernah berlibur ataupun belajar di kota pelajar yang satu ini.

Jauh sebelum tahun 1889, saat pemerintah Belanda merenovasi bangunan tugu, tepatnya tahun 1756. Tugu Jogja dengan nama awal Tugu Golong-Gilig adalah simbol dari semangat perlawanan atas penjajahan, semangat perstatuan rakyat dan penguasa, gambaran dari makna mendalam Manunggaling Kawula Gusti, ketika semangat perlawanan tegak di atas kesadaran akan hubungan mereka dengan Tuhan.

Cobalah sesekali hadir dan selami makna tugu yang satu ini sebagaimana makna awal dibangunnya tugu ini. Agar akar perjuangan atas dasar keyakinan merambat dan tumbuh menjadi tekad melanjutkan perjuangan yang belum tuntas. Inilah makna mendalam dari Tugu Golang Gilig atau Tugu Pal Putih Yogyakarta.

3. Garis Imajiner Tugu Yogyakarta

Tugu Pal Putih terletak dalam satu garis imajiner yang menghubungkan antara pantai Selatan, panggung krapyak, kraton, tugu, dan gunung merapi. Sumbu filosofis itu melambangkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan alam.

Miniatur Tugu Yogy. sumber : detiktravel.com
Miniatur Tugu Yogy. sumber : detiktravel.com

Oleh bebrapa sumber disebutkan jika panggung krapyak ke arah Utara hingga kraton melambangkan perjalanan manusia sejak bayi, beranjak dewasa, menikah, hingga melahirkan anak.

Sedangkan dari tugu menuju ke gunung Merapi melambangkan perjalanan manusia untuk kembali ke Sang Pencipta. Tugu Pal Putih dan Panggung Krapyak juga merupakan simbol Lingga dan Yoni yang melambangkan kesuburan. Dari semua itu, Keraton Yogyakarta menjadi pusatnya.

4. Geografis Tugu Yogyakarta

Tugu Yogyakarta terletak di tengah-tengah simpang empat, Jalan Jendral Soedirman, Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan AM Sangaji, dan Jalan Diponegoro., mempunyai nilai simbolis yang merupakan garis yang bersifat magis yang menghubungkan Pantai Parangtritis, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta dan Gunung Merapi, sebagaimana disinggung pada bagian sebelumnya.

5. Tugu Yogyakarta kini

Tugu Yogyakata sampai dengan saat ini masih menjadi salah satu objek pariwisata populer Yogyakarta, dan tidak jarang disebut dengan istilah “Tugu Pal Putih”, karena memang warna cat yang digunakan sejak dulu hingga hari ini pun adalah warna putih.

Tak hanya menjadi icon Jogja yang populer, tapi juga menjadi tempat salah satu destinasi wisata malam terbaik dan terfavorit bagi banyak pelancong. Sangat menyenangkan memang menghabiskan sebagian malam di sekitaran Tugu Yogyakarta yang monumental.

Tampilan terbaru Tugu Jogja saat ini. Sumber : detiknews
Tampilan terbaru Tugu Jogja saat ini. Sumber : detiknews

Terlebih untuk para wisatawan yang gemar mengabadikan momen-momen langka, dan Tugu Yogyakarta adalah tempat yang tepat bagi Anda untuk melakukan hunting foto. Hal ini ibarat sudah menjadi sebuah rangkaian wajib bagi para pelancong. Menciptakan moment adalah satu paket dengan mengabadikannya.

Selain itu, untuk Anda pecinta kuliner, jangan khawatir. Yogyakarta punya banyak destinasi wisata kuliner. Dan tidak perlu jauh-jauh, karna Amda bisa denganmudah menjumpai sejumlah wisata kuliner menarik di kawasan Tugu Jogja. menyantap kuliner khas Jogja agan menjadi penggenap syahdunya suasanya malam di Jogja.

Tak hanya itu, untuk Anda yang kebetulan berlibur dengan budget terbatas Jogja masih punya solusinya. Anda masih bisa menjumpai banyak wisata kuliner bersahaja, apa lagi kalau bukan angkringan Jogja. Umumnya angkringan menawarkan kuliner-kuliner unik seperti nasi kucing, kopi jos, wedhang jahe, wedang ronde, gorengan, sate usus, sate telur puyuh, dan lain sebagainya.

Demikianlah ulasan kita kali ini mengenai beberapa hal penting yang perlu kita selami terhadap Tugu Yogyakarta. Tugu putih yang agaknya kunjungan ke Jogja serasa tak lengkap tanpa bertatap muka langsung dengan Tugu ini.

Dengan semakin mengenal asal usul sampai dengan filosofi Tugu Yogyakarta, mengujunginya tentu saja akan lebih meninggalkan kesan ketimbang hanya sekedar berlibur dan berkunjung tanpa tau lebih jauh makna sesungguhnya didirikannya tugu Yogyakarta. Anda juga bisa lebih menghargaai hal-hal yang seringkali luput dari perhatian. Jasa para tukang delman, tukang taman sampai dengan tukang las sekalipun sebagai bagian dari penggenap keistimewahan Jogja itu sendiri

Mudah-mudahan ulasan singkat kali ini bisa bermanfaat. Ingat, Tugu Jogja ada bukan sekedar simbol untuk romantisme sejarah, tapi simbol perjuangan, simbl persatuan, simbol perubahan yang perlu kita resapi dalam-dalam. Terakhir, share ulasan ini dan nantikan ulasan menarik lainnya. Sekian dan terima kasih.

Tinggalkan Balasan