Bangsal Sri manganti. Sumber : ig/@kotajogjacom

Mengenal 7 Plataran Keraton Yogya

Keraton Yogya menjadi simbol sakral bagi Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdiri di pusat tatanan kota yang membentang dari utara ke selatan, keraton adalah karya bersejarah rancangan Pangeran Mangkubumi alias Sultan Hamengku Buwono I.

Keraton menjadi satu kesatuan dengan tiga bangunan lain yang dikenal sebagai sumbu filosofi Yogyakarta. Arti dari sumbu filosofi Yogyakarta sendiri adalah keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Gusti Allah Ta’ala, manusia dengan manusia lain, dan manusia dengan alam sekitar.

Adapun tiga bangunan yang dikenal sebagai sumbu filosofi Yogyakarta antara lain Panggung Krapyak, Keraton Yogya, dan Tugu Pal Putih. Panggung krapyak adalah bangunan kubus yang dulu digunakan untuk tempat pengintaian. sedangkan Tugu Pal Putih ialah tugu Jogja monumen terkenal.

Keraton Yogya dibangun pada tahun Jawa 1682 atau 1756 Masehi. Kisah dibalik pembangunannya adalah sejarah panjang nan penuh drama. Kala itu, Raja Pakubuwono II memiliki seorang adik. Setelah dewasa, ternyata sang adik memiliki haluan yang berbeda dengan sang kakak.

Raja Pakubuwono II kala itu bisa dibilang berserikat dengan VOC dan Belanda. Sang adik menentang keras perbuatan yang demikian, dibantu oleh Raden Mas Said, cucu Amangkurat IV, sang adik akhirnya membelot keluarganya sendiri.

Sang adik tidak lain adalah Pangeran Mangkubumi. Raja Pakubuwono selalu kalah dengan adiknya. Akhirnya, guna membentuk perdamaian, Raja Pakubuwono bersama Belanda meminta bantuan ulama dari Surakarta bernama Syekh Malik Ibrahim untuk mendekati Pangeran Mangkubumi.

Kompleks kagungan keraton Yogya. Sumber : ig/@jepe.project
Kompleks kagungan keraton Yogya. Sumber : ig/@jepe.project

Hasilnya, kerajaan besar Mataram kala itu pecah menjadi dua. Yang pertama adalah Kesultanan Surakarta dibawah kuasa Pakubuwono, dan yang kedua adalah Kesultanan Yogyakarta dibawah kepemimpinan Mangkubumi, yang kemudian beralih nama menjadi Sultan Hamengkubuwono I.

Peristiwa pecahnya Kesultanan Mataram tersebut dikemudian hari dikenal sebagai perjanjian Giyanti. Tentu saja peristiwa pembagian wilayah kekuasaan tersebut tidak terjadi dengan mudah. Terjadi banyak cekcok dan perdebatan alot antara Sultan Mangkubumi dengan Penjajah Belanda.

7 Rangkaian Plataran Keraton Yogya

Kini, tempat bersejarah ini menjadi kawasan cagar budaya yang tetap dijaga. Keraton Yogya terdiri dari rangkaian bangunan dan ruang dengan nama, fungsi, serta tata kelola tertentu. Nah, serangkaian bangunan tersebut dikenal juga dengan plataran.

Satu plataran dengan yang lain dihubungkan dengan regol (gerbang). Regol tersebut sekaligus berfungsi menjadi pembatas antar plataran. Konsturksi bangunan pada tiap plataran dibagi menjadi dua : Bangunan gedhong dengan dinding dan bangsal dengan tiang berjejer yang menyangga atap tanpa ada dinding.

Dengan ciri khas dan aura yang menarik dari bangunan keraton ini, banyak orang mencoba “membangun” suasana syahdu dan klasik ala keraton ke rumah mereka. Ada yang menggunakan merek marmer berkelas untuk ubin, ada juga yang menambahkan tiang kayu bercorak, dan sebagainya.

Plataran di keraton Yogya ada 7. Apa saja itu? Berikut adalah ulasannya :

1. Pagelaran Dan Sitihinggil Lor

Pagelaran dan Sitihinggil berletak di sebelah selatan alun-alun utara. Pagelaran berada di area depan serupa tanah lapang yang dulunya berfungsi untuk pelaksaan upacara kerajaan. Sedangkan Sitihinggil berada di undakan yang dulunya menjadi tempat berpijak Sultan dalam memimpin upacara.

Pada area pagelaran, terdapat beberapa bangunan bangsal seperti bangsal pangrawit, bangsal pacikeran, bangsal pagelaran, dan beberapa bangsal lain. Di area Sitihinggil juga terdapat beberapa bangsal dan bale yang berdiri.

2. Kemandhungan Lor

Plataran kedua dari utara bernama Kamandungan lor. Sebuah tanah lapang dengan beberapa bangunan yang berdiri di atasnya. Bangunan tersebut antara lain bangsal pancaniti, bale anti wahana, bangsal pacaosan, dan beberapa pohon besar bernama pohon keben.

Bale anti wahana di pelataran kemandhungan lor berupa bangunan terbuka yang serupa tipologi bangsal dengan lantai mirip lapisan lantai kayu nan klasik.

Regol sri manganti sebagai pemisah antara kemandhungan lor dan plataran sri manganti. Sumber : ig/@antara plataran romofarano
Regol sri manganti sebagai pemisah antara kemandhungan lor dan plataran sri manganti. Sumber : ig/@antara plataran romofarano

3. Srimanganti

Srimanganti memiliki sebuah bangsal yang masih digunakan untuk pementasan kesenian budaya keraton Yogya hingga kini. Bangsal tersebut ialah bangsal sri manganti. Pada Plataran ini juga masih ada beberapa bangunan lain seperti bangsal trajumas, bangsal pacaosan, kantor keamanan keraton, dan kantor tepas dwarapura.

Bangsal Sri manganti. Sumber : ig/@kotajogjacom
Bangsal Sri manganti. Sumber : ig/@kotajogjacom

4. Kedhaton

Kedhaton adalah pusat dari seluruh keraton. Jika berkendara mengitari alun-alun utara Yogyakarta, bangunan serupa istana lama bercat putih yang terjaga itulah kedhaton. Sebenarnya kedathon masih membentang ke selatan.

Banyak bangunan berdiri disana. Salah satunya adalah bangsal kencana dan gedhong prabayeksa sebagai dua bangunan yang dianggap sakral. Bangsal kencana digunakan untuk penyelenggaraan upacara penting, dan gedhong prabayeksa dipakai untuk penyimpanan pusaka utama milik keraton.

5. Kemagangan

Kemagangan merupakan plataran kelima yang dibatasi regol di sisi utara dengan kedhaton. Beberapa bangsal yang berdiri disini antara lain bangsal kemagangan, panti pareden, dan bangsal pacaosan. Dulu, bangsal kemagangan dipakai untuk tanggapan wayang kulit sebagai wisata edukatif dan beberapa kegiatan lainnya.

Panti pareden di sisi barat dan timur dulu menjadi tempat untuk membuat gunungan grebeg. Ada juga bangsal pacaosan. bangsal satu ini memang dijumpai di hampir semua plataran karena bangsal tersebut memiliki fungsi serupa pos satpam. Sebab arti kata caos adalah penjagaan.

6. Kamandungan Kidul

Plataran keenam bernama kamandungan kidul. Terdapat dua bangsal didalamnya, yaitu bangsal kamandungan dan bangsal pacaosan. Bangsal kamandungan adalah salah satu bangsal tertua yang ada di keraton. Dulu, bangunan tersebut adalah rumah Pangeran Mangkubumi di Sukowati.

Memang benar, dulu ketika melakukan perlawanan kepada VOC, Pangerang Mangkubumi tinggal di Sukowati (Sragen). Kemudian bangunan tersebut diboyong ke kawasan keraton.

7. Sitihinggil Kidul

Plataran paling selatan dari keraton, terdapat Sitihinggil kidul. Jika di pucuk utara ada pagelaran dan sitihinggil lor sebagai lokasi upacara sultan dengan prajurit kesultanan, Sitihinggil kidul dibangun untuk tempat sultan menyaksikan latihan prajurit sebelum diadakan upacara tahunan grebeg (garebeg).

Itulah penjelasan tujuh plataran yang menyatu dalam kawasan keraton. Sebagai sebuah rangkaian sumbu filosofi Yogyakarta, keraton berintegrasi dengan filosofi tugu pal putih dan panggung krapyak nan kokoh. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda.[]

Tinggalkan Balasan